Advertisement
Advertisement
Daerah  

Solidaritas Budaya Kepulauan Riau untuk Sumatra, Ketika Seni Menjadi Bahasa Kemanusiaan

Puluhan komunitas seni lintas etnik dan lintas iman di Kepulauan Riau menggalang donasi bagi korban bencana di Sumatra, menegaskan peran kebudayaan sebagai nurani publik di tengah krisis kemanusiaan

Tanjung Pinang-Targetaktual.com]  Seni dan kebudayaan kembali menunjukkan perannya sebagai nurani publik. Gabungan sanggar seni dan komunitas budaya dari tujuh kabupaten/kota se-Kepulauan Riau menggelar aksi solidaritas kemanusiaan bagi korban bencana di Sumatra melalui sebuah panggung kebudayaan, Rabu malam (31/12/2025).

Kegiatan yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut menghadirkan sebanyak 33 komunitas seni lintas etnik, lintas iman, dan lintas generasi. Dalam kegiatan ini, seni tidak hanya diposisikan sebagai ekspresi estetika, tetapi menjadi medium spiritual dan sosial untuk menyuarakan empati, duka, serta harapan bersama bagi masyarakat terdampak bencana.

Ketua Panitia kegiatan, Sauli Firmansyah atau yang akrab disapa Bang Uli, mengatakan bahwa inisiatif penggalangan amal tersebut berangkat dari kegelisahan batin para seniman yang menyaksikan tragedi kemanusiaan di berbagai wilayah Sumatra.

“Bencana tidak hanya merenggut rumah dan lahan penghidupan, tetapi juga memutus kenangan, mengganggu pendidikan anak-anak, serta meretakkan keutuhan keluarga. Dalam situasi seperti ini, seni tidak boleh berjarak dari penderitaan,” ujar Bang Uli di sela kegiatan.

Menurut dia, seni justru harus hadir di tengah duka, menjadi pelukan simbolik dan suara bagi mereka yang kehilangan.
“Seni tidak pernah diciptakan untuk menjauh dari luka kemanusiaan. Seni harus hadir di tengah lumpur duka, menjadi penguat, dan menyuarakan empati,” tegasnya.

Rangkaian kegiatan solidaritas budaya tersebut diisi dengan doa lintas agama, pembacaan puisi reflektif, pertunjukan seni tradisi dan kontemporer, serta penggalangan donasi. Doa dipanjatkan dalam kesadaran bersama bahwa perbedaan keyakinan tidak pernah menghalangi kesatuan rasa kemanusiaan.

Dalam suasana hening, para hadirin menundukkan kepala dan menyatukan doa—yang menadah di masjid, berlutut di gereja, bersila di pura dan wihara sebagai bentuk solidaritas batin bagi saudara-saudara di Sumatra yang terdampak bencana.

Sejumlah budayawan Kepulauan Riau menilai kegiatan ini sebagai pengejawantahan fungsi luhur kebudayaan dalam situasi krisis. Dalam tradisi Nusantara, seni sejak lama hadir sebagai penyangga moral masyarakat ketika tatanan sosial diguncang oleh bencana alam maupun konflik kemanusiaan.

“Saat alam seakan kehilangan kesabarannya, manusia justru diuji nilai kemanusiaannya. Seni menjadi bahasa paling jujur untuk menyampaikan duka, menguatkan harapan, dan meneguhkan solidaritas,” kata seorang budayawan Kepulauan Riau.

Ia menegaskan bahwa kebudayaan tidak boleh direduksi menjadi sekadar seremoni simbolik, melainkan harus hadir sebagai energi sosial yang hidup dan bekerja di tengah masyarakat.

Pandangan serupa disampaikan pengamat seni dan kebijakan kebudayaan yang menyoroti kuatnya ekosistem seni di Kepulauan Riau.

Menurutnya, keterlibatan puluhan sanggar dan individu kreatif mencerminkan daya hidup kebudayaan lokal yang mampu membangun kolaborasi lintas disiplin, lintas wilayah, dan lintas identitas.

“Keterlibatan 33 komunitas seni ini menunjukkan bahwa kebudayaan kita masih hidup dan relevan. Inilah wajah autentik harmoni budaya Nusantara yang lahir dari empati kolektif, bukan dari rekayasa panggung,” ujarnya.

Kegiatan solidaritas budaya tersebut juga mendapat dukungan dari berbagai institusi dan pemangku kepentingan, antara lain Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan), Dewan Kesenian Kota Tanjungpinang, Dekranasda Provinsi Kepulauan Riau, LL Management, Dinas Kesehatan Tanjungpinang, serta Polresta Tanjungpinang.

Puluhan sanggar seni dari seluruh Kepulauan Riau, mitra komunitas dari Malaysia, serta para seniman, koreografer, musisi, visual creator, hingga sutradara artistik turut ambil bagian dalam kegiatan ini dan mengawal jalannya pertunjukan hingga selesai.

Melalui panggung solidaritas tersebut, para pelaku seni Kepulauan Riau menegaskan bahwa kebudayaan bukan sekadar ruang ekspresi, melainkan kekuatan sosial yang mampu merawat empati dan mempertautkan kemanusiaan lintas batas wilayah, identitas, dan keyakinan.

GIF - Animated Banner Ads - 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *