Targetaktual.com] Sibolga- Perum Bulog memastikan bahwa aksi penjarahan yang terjadi di Gudang Bulog Sarudik, Kota Sibolga, Sumatera Utara, pada Minggu (30/11/2025), dipicu oleh kondisi darurat pangan yang melanda masyarakat setelah banjir dan longsor memutus jalur distribusi logistik di kawasan tersebut. Insiden ini menambah panjang daftar dampak bencana yang sejak 24 November lalu melumpuhkan kegiatan ekonomi dan hajat hidup warga Sibolga serta Kabupaten Tapanuli Tengah.
Akses Pangan Lumpuh, Warga Terisolasi
Direktur Operasional dan Pelayanan Publik Perum Bulog, Andi Afdal, menyebut bahwa penjarahan terjadi setelah masyarakat mengalami kekosongan pasokan pangan selama berhari-hari.
“Kami membenarkan kejadian tersebut terjadi akibat dampak langsung dari bencana yang memutus akses logistik dan menempatkan masyarakat dalam kondisi darurat pangan,” ujar Andi.
Menurutnya, bencana banjir dan longsor membuat sejumlah jalur utama menuju Sibolga tidak dapat dilalui kendaraan berat maupun logistik bantuan. Selama tiga hari, masyarakat di sejumlah wilayah terdampak hanya mengandalkan persediaan makanan yang semakin menipis.
Bulog berharap insiden ini menjadi momentum penting dalam memperkuat sistem mitigasi bencana nasional, terutama terkait distribusi pangan, agar kejadian serupa tidak kembali terulang.
Bulog Sumut: “Kondisi Masyarakat Memang Gawat”
Pemimpin Wilayah Bulog Sumut, Budi Cahyanto, menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan komunikasi dengan pemerintah daerah, TNI, Polri, dan berbagai stakeholder terkait untuk memulihkan distribusi secepat mungkin.
“Kami memahami masyarakat berada dalam situasi darurat akibat banjir yang memakan korban jiwa dan merusak infrastruktur. Akses pangan terputus, dan itu membuat situasi semakin genting,” kata Budi.
Bulog saat ini masih menghitung jumlah beras dan minyak goreng yang diambil massa. Gangguan sinyal di Sibolga dan Tapteng membuat komunikasi dengan tim lapangan berjalan tersendat.
Penjagaan Sudah Ada, Namun Fokus Aparat Terbagi
Sebelum kejadian, Bulog Sibolga telah berkoordinasi dengan Polres Sibolga dan Kodim Tapanuli Tengah untuk menjaga fasilitas gudang. Personel Polsek dan Koramil setempat sempat ditempatkan di lokasi.
Namun, pada saat bersamaan, aparat juga sedang mengevakuasi warga terdampak, mengatur dapur umum, dan menangani korban banjir.
Pinca Bulog Sibolga kemudian meminta bala bantuan; permintaan tersebut diteruskan ke Kodam I/BB dan Polda Sumut. Personel tambahan sedang dalam perjalanan ketika massa tiba-tiba berkumpul di depan gudang.
Dalam waktu singkat, pagar gerbang didorong hingga roboh. Gembok gudang dirusak. Massa kemudian masuk ke dalam dan mengambil beras serta minyak goreng yang tersimpan di Gudang Sarudik. Aparat yang ada di lokasi berusaha menghalangi, namun situasi tak terkendali akibat tekanan kebutuhan warga.
Bencana Melumpuhkan Jalur Utama
Banjir besar yang melanda Sibolga dan Tapteng pada 24–25 November menyebabkan:
jalan penghubung terputus, tebing longsor, jembatan rusak, akses listrik dan sinyal telekomunikasi terganggu.
Sejumlah desa yang berada di wilayah perbukitan menjadi terisolasi. Selama tiga hari, tidak ada pasokan beras, minyak goreng, maupun kebutuhan pokok lain masuk ke wilayah tersebut.
Kondisi ini memicu kepanikan dan kekhawatiran warga mengenai ketersediaan pangan, terutama bagi keluarga dengan balita, lansia, serta rumah tangga yang seluruhnya bergantung pada bantuan.
Bulog Pastikan Pasokan Nasional Aman
Meski insiden ini menghambat sementara operasional gudang, Bulog menegaskan persediaan stok pangan nasional tetap aman dan distribusi akan kembali lancar begitu jalur darat pulih.
“Pemenuhan kebutuhan masyarakat adalah prioritas utama. Bulog berkomitmen menjaga stabilitas pasokan, terutama di masa bencana,” tegas Budi.
Bulog juga memastikan akan memperkuat koordinasi dan prosedur keamanan gudang di wilayah-wilayah rawan bencana.
Trauma Banjir dan Pelajaran Penting
Insiden penjarahan menjadi cerminan bahwa bencana alam tidak hanya menimbulkan kerusakan fisik, tetapi juga tekanan psikologis dan sosial yang memengaruhi masyarakat. Kebutuhan dasar seperti pangan dapat memicu tindakan di luar kendali saat warga merasa tidak lagi memiliki pilihan.
Bagi pemerintah dan lembaga terkait, bencana ini menjadi pengingat penting bahwa kesiapsiagaan, jalur alternatif logistik, serta sistem distribusi darurat harus terus diperkuat.


.jpg)












