BATAM – Tidak semua orang yang memberikan pelajaran kehidupan harus berdiri di depan kelas. Tidak semua nasihat yang menyentuh hati harus disampaikan melalui kata-kata panjang. Terkadang, pelajaran paling berharga justru datang dari seseorang yang sederhana, dengan usia yang semakin senja, tetapi memiliki hati yang begitu kaya akan kasih sayang.
Itulah yang tergambar dari sosok Mbah Rustam Hadi, perempuan berusia 74 tahun yang akrab disapa Mbah Hadi oleh warga Kavling Mangsang Maju, Kelurahan Mangsang, Kecamatan Sungai Beduk, Kota Batam.
Di tengah kesibukan Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Kodim 0316/Batam yang sedang mengejar penyelesaian pembangunan jalan, kehadiran Mbah Hadi selalu membawa suasana berbeda.
Senin (2/11/2026), dengan logat Jawa yang khas, ia kembali menyapa para prajurit. Sesekali mengajak berbincang, melempar senyum, dan mengajak mereka makan bersama.
Tidak ada kemewahan dalam caranya menyambut para prajurit. Tidak ada sesuatu yang luar biasa dari apa yang dilakukannya.
Namun, justru dari kesederhanaan itu tersimpan pesan yang begitu menyentuh.
Seolah-olah Mbah Hadi ingin mengingatkan bahwa manusia boleh sibuk mengejar pekerjaan, boleh lelah menjalani kehidupan, tetapi jangan sampai kehilangan hati untuk peduli kepada sesama.
Nasihat dari Hati yang Telah Menempuh Panjangnya Kehidupan
Di usia 74 tahun, Mbah Hadi tentu telah melewati berbagai perjalanan kehidupan. Waktu mengajarkannya bahwa tidak semua hal dapat dibeli dengan uang, tidak semua kesedihan dapat dihilangkan dengan harta, dan tidak semua kebahagiaan harus datang dari sesuatu yang besar.
Ada kebahagiaan ketika bisa menyapa orang lain.
Ada ketenangan ketika bisa membantu sesama.
Ada kepuasan batin ketika melihat orang lain tersenyum karena perhatian kecil yang diberikan.
Pesan seperti itulah yang tercermin dari sikapnya kepada para prajurit.
Mungkin bagi Mbah Hadi, menyapa anggota Satgas adalah hal biasa. Mengajak mereka makan bersama adalah bentuk keramahan sederhana. Tetapi bagi orang-orang yang sedang jauh dari keluarga dan menjalankan tugas berat, perhatian itu memiliki arti tersendiri.
Di tengah panasnya matahari dan pekerjaan yang menguras tenaga, mereka menemukan kehangatan dari seorang ibu di lingkungan tempat mereka mengabdi.
Ada sesuatu yang tidak bisa diberikan oleh beton yang sedang mereka cor, tetapi bisa diberikan oleh hati seorang manusia: rasa dihargai dan dianggap sebagai keluarga.
Jangan Menunggu Kaya untuk Berbagi, Jangan Menunggu Kuat untuk Menolong
Salah satu pelajaran paling dalam dari Mbah Hadi adalah tentang arti berbagi.
Ia menunjukkan bahwa untuk membuat orang lain bahagia, seseorang tidak harus memiliki banyak harta.
Tidak perlu menunggu kaya untuk memberi. Tidak perlu menunggu hidup berkecukupan untuk peduli. Bahkan, tidak perlu menunggu orang lain meminta bantuan untuk menunjukkan perhatian.
Terkadang, satu piring makanan, segelas minuman, satu sapaan, atau senyuman tulus bisa menjadi kebahagiaan yang tidak terlupakan.
Dari kebiasaan sederhana Mbah Hadi, tersimpan nasihat yang patut direnungkan:
Jangan pelit dengan kebaikan, karena kita tidak pernah tahu seberapa berat beban yang sedang dipikul orang lain.
Jangan lelah membantu, karena mungkin bantuan kecil kita menjadi pertolongan besar bagi seseorang.
Jangan merasa rendah ketika berbuat baik, sebab kemuliaan seseorang bukan terletak pada apa yang dimilikinya, tetapi pada apa yang mampu diberikannya kepada sesama.
Dan jangan menunggu hari esok untuk menyayangi orang lain, karena tidak ada seorang pun yang mengetahui berapa lama kesempatan itu masih diberikan.
Di Tengah Keringat Prajurit, Ada Kasih Sayang Seorang Ibu
Pembangunan jalan TMMD bukan pekerjaan ringan. Setiap hari para prajurit harus berhadapan dengan material, cuaca, dan berbagai tantangan di lapangan.
Ada keringat yang jatuh, ada tenaga yang terkuras, dan ada tanggung jawab yang harus dituntaskan.
Namun, pengabdian tidak selalu tentang seberapa kuat seseorang mengangkat material atau seberapa cepat pekerjaan diselesaikan.
Ada pula pengabdian yang lahir dari perhatian dan kasih sayang.
Mbah Hadi mungkin tidak ikut mengaduk semen, tidak mengoperasikan mesin molen, dan tidak mengangkat material pembangunan. Tetapi, melalui sapaan dan kepeduliannya, ia ikut memberikan semangat kepada mereka yang sedang bekerja.
Ia mengajarkan bahwa setiap orang memiliki cara masing-masing untuk berbuat baik.
Prajurit mengabdi melalui tenaga dan tugasnya. Mbah Hadi mengabdi melalui ketulusan dan perhatian yang diberikan kepada sesama.
Keduanya bertemu dalam satu nilai yang sama: keikhlasan.
Jangan Sampai Usia Bertambah, tetapi Kepedulian Justru Berkurang
Ada satu renungan yang terasa kuat dari sosok Mbah Hadi.
Usia boleh bertambah, rambut boleh memutih, dan kekuatan tubuh boleh berkurang. Tetapi, jangan biarkan hati menjadi dingin terhadap penderitaan orang lain.
Sebab, menjadi tua bukan berarti berhenti bermanfaat.
Selama masih bisa menyapa, berikanlah sapaan yang baik. Selama masih bisa tersenyum, berikanlah senyum yang menenangkan. Selama masih bisa berbagi, jangan tutup pintu kepedulian.
Mungkin suatu hari nanti, kita tidak lagi mampu melakukan banyak hal seperti ketika masih muda. Namun, kita tetap bisa meninggalkan kebahagiaan melalui sikap dan kebaikan.
Itulah pelajaran yang seolah disampaikan Mbah Hadi kepada para prajurit.
Bahwa kekuatan manusia bukan hanya terletak pada otot dan tenaga, melainkan juga pada hati yang tidak pernah lelah mencintai dan peduli kepada orang lain.
Jalan TMMD Akan Selesai, tetapi Nasihat Mbah Hadi Akan Tetap Hidup
Kelak, ketika pembangunan jalan di Kavling Mangsang Maju selesai, para prajurit Satgas TMMD ke-130 akan kembali menjalankan tugas di satuan masing-masing.
Mereka mungkin akan melupakan berapa banyak adukan semen yang pernah dibuat, berapa kali material dipindahkan, atau berapa panjang jalan yang telah dicor.
Namun, ada kenangan yang mungkin akan terus melekat: seorang perempuan berusia 74 tahun yang menyambut mereka dengan senyum, menyapa dengan logat Jawa yang khas, dan mengajak mereka makan bersama seperti anak-anaknya sendiri.
Bagi Mbah Hadi, mungkin semua itu hanyalah bentuk keramahan seorang warga.
Tetapi bagi para prajurit, perhatian tersebut menjadi pengingat bahwa di mana pun mereka bertugas, selalu ada keluarga baru yang bisa ditemukan melalui pengabdian.
Dari seorang Mbah Hadi, ada pesan kehidupan yang patut dibawa pulang oleh siapa saja:
“Jangan pernah lelah berbuat baik. Jangan menunggu memiliki banyak untuk berbagi. Jangan menunggu orang lain meminta untuk peduli. Selagi masih diberi umur dan kesempatan, lakukanlah kebaikan. Sebab, kita tidak pernah tahu kebaikan kecil mana yang akan menjadi kenangan paling besar bagi orang lain.”
Pada akhirnya, pembangunan jalan akan meninggalkan manfaat bagi masyarakat. Tetapi, ketulusan Mbah Hadi juga meninggalkan sesuatu yang tidak kalah berharga bagi para prajurit: pelajaran tentang menjadi manusia yang selalu bermanfaat.
Di usianya yang ke-74 tahun, Mbah Hadi mungkin tidak sedang membangun jalan dengan semen dan batu. Namun, melalui keramahan dan kepeduliannya, ia sedang membangun sesuatu yang jauh lebih dalam: jembatan kasih sayang antarmanusia.
Dan mungkin, itulah warisan terbaik yang bisa ditinggalkan seseorang dalam kehidupannya.
Sebab jalan bisa dibangun dengan beton, tetapi hati manusia hanya bisa disentuh dengan ketulusan.


.jpg)


