Batam-Targetaktual.com] Kenaikan harga sembako belakangan ini menjadi momok bagi masyarakat Kota Batam, Kepulauan Riau. Memasuki awal tahun 2026, harga beras dan sejumlah kebutuhan pokok lainnya dilaporkan mengalami kenaikan cukup signifikan.
Situasi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya kepanikan di tengah masyarakat. Karena itu, peran pengawasan dari seluruh stakeholder, termasuk aparat kepolisian, dinilai sangat penting untuk menjaga stabilitas harga dan pasokan di pasar.
Polisi Pantau Harga Beras di Pasar
Kapolresta Barelang Kombes Pol Anggoro Wicaksono memastikan pihaknya terus melakukan pengawasan di lapangan untuk mengantisipasi lonjakan harga sembako, khususnya beras.
“Kami selalu melakukan pengawasan di lapangan terkait lonjakan harga beras di pasar. Kami minta jangan ada pengusaha yang mencoba melakukan permainan di tengah adanya isu kenaikan beras ini,” kata Anggoro, Selasa (6/1/2026).
Ia menegaskan, kepolisian tidak akan tinggal diam jika menemukan adanya indikasi pelanggaran, termasuk praktik penimbunan yang dapat merugikan masyarakat.
Pengusaha Diingatkan Tak Menimbun Sembako
Anggoro menekankan bahwa pihaknya tidak akan segan melakukan penyelidikan hingga proses hukum apabila ditemukan pengusaha yang bermain harga atau menimbun sembako.
“Saya ingatkan kepada pengusaha, jangan pernah menimbun sembako. Supaya masyarakat tetap aman dan tidak panik,” tegasnya.
Menurutnya, situasi kenaikan harga seperti ini kerap dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab untuk meraup keuntungan pribadi.
Warga Diminta Tetap Tenang
Selain mengingatkan pengusaha, Kapolresta Barelang juga meminta masyarakat untuk tidak panik menyikapi kenaikan harga sembako.
Sebab, pengawasan ketat terus dilakukan oleh aparat bersama instansi terkait guna menjaga stabilitas pasokan dan harga di pasaran.
“Masyarakat tidak perlu terlalu panik, karena kami selalu melakukan pengawasan,” ujarnya.
Harga Komoditas Strategis Naik Usai Nataru
Sementara itu, hampir seluruh harga kebutuhan pokok di Kota Batam dilaporkan melonjak usai perayaan Natal dan Tahun Baru. Kenaikan terjadi pada berbagai komoditas strategis, seperti cabai, telur, daging ayam, sayur-mayur, hingga beras.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad menyebut lonjakan harga tersebut merupakan fenomena yang hampir selalu terjadi setiap tahun, terutama pada momentum hari besar keagamaan nasional.
“Fenomena ini bukan hanya terjadi di Batam, tapi hampir di seluruh daerah di Indonesia. Setiap Natal, Tahun Baru, Idulfitri, maupun Iduladha, selalu ada tren kenaikan harga pada komoditas strategis,” kata Amsakar.
Gangguan Pasokan dari Daerah Pemasok
Meski bersifat rutin, Amsakar mengakui kenaikan harga kali ini tergolong cukup signifikan. Salah satu penyebabnya adalah gangguan rantai pasok dari daerah pemasok utama Batam yang terdampak bencana alam dan cuaca ekstrem.
“Batam ini sangat bergantung pada daerah lain, seperti Sumatera Barat dan Sumatera Utara yang merupakan pemasok utama cabai, sayur-mayur, telur, dan daging ayam,” jelasnya.
Ia menyebut telur dan ayam sebagian besar dipasok dari Medan, sementara cabai juga didatangkan dari Lombok.
Cuaca Ekstrem Hambat Distribusi Logistik
Amsakar menambahkan, sejumlah daerah pemasok saat ini tengah menghadapi bencana dan cuaca ekstrem, sehingga berdampak langsung pada distribusi barang ke Batam.
Tak hanya itu, Batam sendiri juga mengalami kondisi cuaca ekstrem dalam beberapa bulan terakhir. Gelombang laut tinggi yang terjadi pada Desember 2025 turut menghambat kelancaran distribusi logistik.
“Kemarin kita rapat dengan BMKG. Diprediksi gelombang laut meningkat, ditambah curah hujan tinggi dan pasang laut. Kita juga harus mewaspadai potensi banjir rob,” kata Amsakar.
Pemko Batam Gelar Bazar Murah
Untuk menekan laju inflasi daerah, Pemerintah Kota Batam telah melakukan sejumlah langkah konkret, terutama menjelang Natal dan Tahun Baru.
Salah satunya dengan menggelar bazar sembako murah dengan potongan harga hingga 50 persen serta melibatkan distributor untuk membantu penyediaan kebutuhan pokok bagi masyarakat.
“Alhamdulillah, dua langkah ini cukup efektif menekan inflasi daerah. Tapi harus diakui, kalau sudah berhadapan dengan gangguan distribusi, menjaga harga tetap normal itu tidak mudah,” ujarnya.
Tegaskan Tak Ada Impor Beras
Amsakar juga menegaskan pentingnya mengurangi ketergantungan Batam terhadap daerah pemasok luar dalam jangka panjang.
Terkait isu larangan impor beras yang sempat mencuat, ia memastikan Batam tidak melakukan impor beras. Seluruh beras yang beredar di Batam dipastikan merupakan produksi dalam negeri.
“Saya pastikan, dalam dua sampai tiga tahun terakhir, tidak ada izin impor beras yang dikeluarkan untuk Batam,” tegasnya.
Bahkan, Amsakar mengaku sempat dipanggil langsung oleh Menteri Perdagangan untuk menjelaskan kondisi tersebut. Dalam pertemuan itu, ia meminta dukungan pasokan beras premium untuk memenuhi kebutuhan masyarakat Batam.
“Di Bulog saat itu tersedia beras medium, sementara kebutuhan masyarakat juga beras premium. Alhamdulillah, responsnya cepat dan langsung dikirim,” kata Amsakar.


.jpg)


