Jakarta-Targetaktual.com] Pemerintah menaikkan target Cadangan Beras Pemerintah (CBP) menjadi 4 juta ton pada tahun 2026. Kebijakan ini menempatkan Perum Bulog sebagai garda terdepan dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan nasional sekaligus memastikan stabilitas pasokan dan harga beras di dalam negeri.
Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan penguatan CBP menjadi prioritas utama Bulog pada 2026, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar ketahanan pangan nasional dijaga secara berkelanjutan dan terukur.
“Target penyerapan tahun 2026 meningkat menjadi 4 juta ton. Ini kenaikan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 3 juta ton. Karena itu, kami menyiapkan langkah sejak dini agar target tersebut dapat tercapai,” ujar Rizal saat membuka Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Bulog di Jakarta, Minggu (11/1/2026).
Rakernas Bulog yang berlangsung selama dua hari, 11–12 Januari 2026, diikuti oleh seluruh pimpinan wilayah dan pimpinan cabang Bulog dari berbagai daerah. Forum ini menjadi ajang konsolidasi untuk menyelaraskan strategi pengadaan, penyerapan, serta distribusi pangan nasional sepanjang tahun 2026.
Menurut Rizal, peningkatan target CBP dilakukan dengan mempertimbangkan berbagai tantangan yang dihadapi sektor pangan, mulai dari perubahan iklim, ketidakpastian global, hingga kebutuhan menjaga daya beli masyarakat melalui stabilisasi harga.
Perkuat Kolaborasi Pentahelix
Dalam mencapai target tersebut, Bulog menegaskan tidak bekerja sendiri. Kolaborasi pentahelix—yang melibatkan pemerintah pusat dan daerah, pelaku usaha, akademisi, media, serta petani—menjadi kunci utama keberhasilan penguatan cadangan beras nasional.
“Bulog tidak bisa bekerja sendiri. Kami dibantu oleh seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah, swasta, maupun petani di seluruh tanah air,” kata Rizal.
Dukungan juga datang dari aparat TNI dan Polri melalui peran Babinsa dan Bhabinkamtibmas, serta Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL). Kehadiran mereka dinilai strategis untuk memperlancar proses penyerapan gabah dan beras di tingkat petani, sekaligus memastikan distribusi logistik berjalan efektif hingga ke wilayah terpencil.
“Tanpa dukungan TNI-Polri dan PPL, proses penyerapan di lapangan tentu menghadapi banyak kendala. Peran ketiga unsur ini sangat krusial untuk mendukung pencapaian target 4 juta ton,” ujar Rizal.
Diversifikasi dan Stabilitas Pangan
Selain beras, Bulog juga menetapkan target penyerapan dan penyaluran sejumlah komoditas pangan strategis lainnya pada 2026. Untuk jagung, Bulog menargetkan penyerapan hingga 1 juta ton dengan bersinergi bersama Polri. Sementara itu, target penyerapan kedelai ditetapkan sebesar 70.000 ton secara nasional.
Di sektor minyak goreng, Bulog menyiapkan penyaluran Minyakita sebanyak 720.000 kiloliter bekerja sama dengan ID Food dan Agrinas Palma. Langkah ini ditujukan untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan ketersediaan minyak goreng bagi masyarakat.
Rizal menegaskan, diversifikasi penanganan komoditas pangan menjadi bagian penting dari strategi ketahanan pangan nasional, terutama untuk mengantisipasi gejolak pasokan dan harga akibat faktor eksternal.
Apresiasi dan Komitmen Berkelanjutan
Dalam kesempatan tersebut, Rizal juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh jajaran Bulog serta para pemangku kepentingan yang selama ini berperan aktif menjaga ketahanan pangan nasional.
Ia menegaskan komitmen Bulog untuk terus memperkuat peran sebagai stabilisator pangan, tidak hanya melalui penguatan cadangan beras, tetapi juga dengan memastikan distribusi pangan yang adil dan merata di seluruh wilayah Indonesia.
“Ketahanan pangan adalah tanggung jawab bersama. Bulog akan terus bekerja keras bersama seluruh stakeholder untuk memastikan pangan tetap tersedia, terjangkau, dan aman bagi masyarakat,” ujar Rizal.
Dengan target CBP sebesar 4 juta ton pada 2026, pemerintah berharap Indonesia mampu memperkokoh swasembada pangan sekaligus meningkatkan ketahanan nasional di tengah tantangan iklim dan dinamika global yang terus berkembang.


.jpg)












