Advertisement
Advertisement

Di Balik Keringat dan Lelah Prajurit TMMD 130, Ada Sujud dan Doa yang Tak Pernah Terlupakan

Mereka datang untuk membangun jalan, mengorbankan waktu bersama keluarga, dan mengabdikan tenaga demi masyarakat. Namun, di tengah kerasnya perjuangan itu, para prajurit Satgas TMMD ke-130 Kodim 0316/Batam tidak pernah lupa kepada siapa mereka harus berserah diri. Ketika azan Jumat berkumandang, sekop dan peralatan pengecoran sejenak ditinggalkan. Mereka memilih bersujud kepada Sang Pencipta.

BATAM – Di balik seragam loreng yang setiap hari bergelimang debu dan semen, tersimpan hati manusia biasa yang juga mengenal lelah, rindu, dan harapan.

Itulah gambaran para prajurit Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) ke-130 Kodim 0316/Batam yang tengah berjibaku membangun jalan di Kavling Mangsang Maju, Kelurahan Mangsang, Kecamatan Sei Beduk, Kota Batam.

Jumat (30/10/2026), sejak pagi mereka kembali bergelut dengan pekerjaan pengecoran. Panas matahari, beratnya material, serta medan pekerjaan menjadi bagian dari perjuangan yang harus dijalani.

Keringat terus mengalir. Tangan bekerja tanpa banyak bicara. Setiap adukan semen menjadi bagian dari harapan masyarakat untuk memiliki jalan yang lebih baik.

Namun, di tengah kesibukan itu, ada satu panggilan yang tidak boleh mereka abaikan.

Ketika azan Jumat berkumandang, para prajurit Satgas yang beragama Islam sejenak menghentikan aktivitas pekerjaan. Peralatan yang sebelumnya berada di tangan diletakkan. Mereka bergegas mempersiapkan diri untuk menunaikan salat Jumat.

Seolah menjadi pengingat bahwa sekeras apa pun manusia berjuang, ada saatnya ia harus berhenti sejenak, menundukkan kepala, dan mengingat Tuhan.

Di tempat ibadah, mereka tidak lagi memikirkan berapa banyak jalan yang harus dicor atau seberapa berat pekerjaan yang menanti. Mereka datang sebagai hamba Allah SWT, membawa segala harapan dan doa.

Di Balik Seragam Loreng, Ada Kerinduan dan Doa

Mungkin ada keluarga yang sedang menunggu kepulangan mereka. Ada anak yang merindukan kehadiran ayahnya, ada istri yang berharap suaminya selalu dalam keadaan sehat, dan ada orang tua yang senantiasa mendoakan keselamatan anaknya.

Namun, untuk sementara, semua kerinduan itu disimpan demi tugas pengabdian.

Di tengah pengorbanan tersebut, ibadah menjadi tempat mereka menenangkan hati. Dalam setiap sujud, ada doa yang mungkin tidak terdengar oleh siapa pun.

Memohon agar diberikan kesehatan, dijauhkan dari bahaya, diberi kekuatan menghadapi pekerjaan, serta dilancarkan seluruh rangkaian kegiatan TMMD.

Mereka menyadari bahwa tenaga manusia memiliki batas. Tetapi dengan keyakinan, doa, dan semangat kebersamaan, setiap tantangan dapat dihadapi dengan lebih tabah.

Bukan Hanya Membangun Jalan, tetapi Menanamkan Keteladanan

Usai menunaikan salat Jumat, para prajurit kembali melanjutkan pekerjaan. Mereka kembali memegang peralatan, menyingsingkan lengan baju, dan meneruskan pengecoran bersama masyarakat.

Tidak ada yang berubah dari semangat pengabdian mereka.

Jalan yang sedang dibangun mungkin kelak akan dilalui kendaraan, anak-anak yang pergi ke sekolah, serta warga yang menjalankan aktivitas sehari-hari. Namun, di balik jalan tersebut, ada pengorbanan, kebersamaan, dan doa yang menyertai proses pembangunannya.

Inilah sisi kemanusiaan seorang prajurit yang terkadang tidak terlihat. Mereka bukan hanya kuat ketika bekerja, tetapi juga tetap menjaga kewajiban kepada Tuhan di tengah kesibukan.

Ada pesan yang begitu dalam dari pemandangan sederhana di Kavling Mangsang Maju.

Jangan pernah terlalu sibuk membangun kehidupan di dunia hingga lupa kepada Sang Pencipta. Jangan sampai tangan yang begitu kuat bekerja justru lupa untuk menengadah dan berdoa.

Sebab, bagi para prajurit Satgas TMMD ke-130, pengabdian bukan semata-mata tentang menyelesaikan pembangunan jalan.

Ada tanggung jawab kepada bangsa, ada kepedulian kepada masyarakat, ada keluarga yang menunggu, dan ada Tuhan yang selalu menjadi tempat memohon kekuatan.

Mereka membangun jalan dengan tenaga, menjalankan tugas dengan keikhlasan, dan menjaga hati dengan ibadah.

Karena prajurit sejati bukan hanya mereka yang kuat menghadapi kerasnya medan pengabdian, tetapi juga mereka yang tidak pernah lupa bersujud, bahkan ketika dunia sedang menuntut seluruh tenaganya.

GIF - Animated Banner Ads - 1

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *